Sur4m’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN JAMUR TIRAM (Pleurotus spp.)

PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN JAMUR TIRAM (Pleurotus spp.)

Tujuan : Mengamati pertumbuhan dan perkembangan jamur tiram (Pleurotus spp.)

PENDAHULUAN

Pengamatan mengenai pertumbuhan jamur yang dapat dimakan, secara alami tumbuh pada hasil penguraian bahan organik. Budidaya jamur tiram (Pleurotus spp.) dan spesies kerabat dekat lainnya sangat dikembangkan di pasaran. Semua jenis saprofit khususnya yang tumbuh pada kayu dapat dengan mudah dibudidayakan, meskipun dalam beberapa hal jamur-jamur tersebut hampir sulit dipasarkan dalam jumlah besar karena sifatnya yang lunak sehingga mudah rusak. Jamur tiram yang banyak dijumpai di pasar swalayan adalah jamur tiram putih (P. ostreatus) tetapi adapula jenis lain yang sudah dibudidayakan seperti yang berwarna merah jambu (P. flabellatus) dan hitam (P. cystidiosus). Pleurotus spp. umumnya hidup pada kayu sebagai saprob meskipun satu jenis yaitu P. eryngii dapat hidup sebagai parasit.

Jamur tiram dapat ditumbuhkan pada media kompos serbuk gergaji kayu. Miselium dan tubuh buahnya tumbuh dan berkembang baik pada suhu 25-39 ?C. Agar bakal tubuh buah terbentuk biasanya dibutuhkan kejutan fisik seperti perubahan suhu, cahaya, tingkat CO2, kelembaban relatif udara dan aerasi. Suhu substrat yang tinggi dapat memicu pertumbuhan mikroflora termofilik. Mikroorganisme termofilik tumbuh pada kisaran suhu 30-55oC, ketika tumbuh mikroorganisme tersebut menghasilkan panas yang lebih pada substrat sehingga dapat mematikan miselium jamur yang dibudidayakan. Substrat sebaiknya memiliki konduktivitas panas yang rendah, oleh karena itu susunan tinggi kompos kurang dari 25 cm dan log jamur tidak lebih dari 25 kg. Selama pembentukan tubuh buah, beberapa jamur sensitif terhadap tingkat CO2 yang tinggi, sehingga tubuh buah yang terbentuk akan memiliki tangkai yang panjang dan tudung yang kecil. Kisaran konsentrasi CO2 yang baik untuk pertumbuhan galur tertentu dari P. ostreatus antara 550-700 ppm. Faktor cahaya sangat menentukan pembentukan tubuh buah. Beberapa jamur akan membentuk tubuh buah jika kekurangan cahaya. Untuk pembentukan tubuh buahnya Pleurotus spp. diperlukan 8 jam penyinaran cahaya, namun Pleurotus yang tumbuh tanpa cahaya akan membentuk struktur seperti koral dengan banyak tangkai yang bercabang.

Bakal tubuh buah atau primordia dari basidiomiset adalah gumpalan kecil yang terdiri dari kumpulan miselia yang akan berkembang menjadi tubuh buah. Diameter tubuh buah sekitar 1 mm. Primordia berkembang dan pada tubuh buah muda terlihat bagian-bagian tubuh buah seperti tudung dan tangkai yang terletak tidak di tengah tudung. Pada permukaan bawah tudung dari tubuh buah muda terdapat bilah-bilah (lamela). Lamela tubuh menurun dan melekat pada tangkai. Pada lamela terdapat sel-sel pembentuk spora (basidium), yang berisi basidiospora. Basidiospora biasanya dibentuk pada saat tubuh buah dewasa mengalami kematangan. Selama tepi tudung masih berlipat-lipat, tubuh buah dikatakan belum dewasa. Pada saat tepi tudung meregang penuh tubuh buah mencapai fase dewasa dan dapat dipanen. Tubuh buah yang matang biasanya rapuh dan spora-spora dapat dilepaskan.

Spora pada jamur berfungsi untuk alat reproduksi dan bertahan. Karakteristik spora sering digunakan untuk mempelajari sistematika dan klasifikasi jamur. Para ahli mikologi dapat menggunakan spora atau lebih tepatnya jejak spora yang dapat membantunya untuk mengidentifikasi ribuan spesies jamur yang memiliki tudung. Jejak spora adalah kumpulan spora dalam jumlah besar. Hal ini bisa diperoleh dengan meletakkan tudung dengan himenium menghadap ke bawah pada selembar kertas putih atau sepotong kaca. Setelah beberapa jam, terkadang tidak sampai esok harinya, lapisan spora akan terkumpul. Warna spora terbagi ke dalam 4 atau 5 tipe umum, yaitu: putih, merah muda, kuning tanah dan ungu kehitaman, namun kelompok terakhir dapat dibedakan lagi menjadi ungu dan hitam. Warna spora kadang-kadang dapat dilihat secara visual dengan melihat lamela pada jamur dewasa, tetapi kadang-kadang warna dari lamela menyembunyikan warna sporanya.

ALAT DAN BAHAN

Alat dan Bahan :

1. Bibit P. cystidiosus, P. flabellatus, dan P. ostreatus.

2. Media produksi steril, merupakan kompos dari campuran serbuk gergaji, bekatul, gips dan kapur.

3. Karton hitam dan putih

4. Kantong plastik

5. Gelas preparat dan gelas penutup

6. Air dan hairsprayer

CARA KERJA

1. Satu sendok makan bibit jamur ditanam pada media produksi dan disimpan ditempat yang gelap sampai seluruh permukaan media ditutupi oleh miselia.

2. Setelah fase kolonisasi substrat berakhir, sumbat dapat dibuka atau kantong plastik dilubangi. Media sebaiknya dipindahkan di tempat terang dan teduh. Perubahan kondisi dapat merangsang pembentukan primordia.

3. Agar perkembangan primordia tidak terganggu, kelembaban media harus dijaga dengan cara penyiraman.

4. Amati perkembangan primordianya dan jawablah pertanyaan dibawah ini.

- Setelah hari tanam, berapa hari yang dibutuhkan jamur untuk mengkolonisasi substrat dan untuk pembentukan primordia pertama? Apakah lamela sudah terlihat sejak awal perkembangan primordia?. Jika lamela terlihat, berarti tudung terbuka. Apakah tudungnya tertutup kemudian terbuka menjelang dewasa, tidak pernah tertutup ataukah selalu terbuka sejak awal?. Apakah ujung lamela dekat tangkai melekat pada tangkai?

- Uraikan ciri-ciri jamur yang dapat saudara kenali dengan mata telanjang dan gambarlah tubuh buah jamur dewasa serta lengkapi dengan keterangan. Berapa jumlah tubuh buah dewasa yang dapat dipanen? Berapa tubuh buah dewasa lengkap dikering udarakan dan setelah kering dimasukkan kedalam kantong plastik dan tuliskan nomor kelompok, hari praktikum dan nama asisten. Serahkan bersama-sama laporan pada asisten anda.

- Berapa lama substrat dapat dipelihara dengan baik? Buatlah jejak sporanya. Satu tubuh buah dewasa dipanen dan tudungnya dipisahkan dari tangkainya, sehingga tudung dapat diletakkan mendatar. Tudung diletakkan diatas karton, mengenai bagian hitam dan putih. Tudung dan kartonnya diletakkan didalam kantong plastik dan kapas lembab diletakkan di satu sudut karton untuk menjaga kelembaban. Setelah 24 jam tudung dan kapas dapat dibuang. Apakah dibawah tudung ditemukan alur-alur tumpukan spora? Alur-alur spora ini disebut jejak spora. Apakah warna massa spora pada jejak spora? Warna massa spora pada jejak spora merupakan salah satu informasi yang diperlukan untuk mengidentifikasi jamurnya. Semprotkan hairspray tipis-tipis diseluruh area jejak spora dan setelah kering masukkan kedalam kantong plastik. Dipermukaan luar kantong plastik tuliskan nomer kelompok, hari praktikum dan nama asisten. Serahkan kepada asisten beserta laporannya.

- Ambillah beberapa potongan tangkai, panjangnya kurang lebih 1 cm. Perhatikan apakah tangkai berongga dan apakah tangkainya berserat? Informasi ini juga sering dipakai dalam identifikasi.

 

Dengan citarasa yang lezat, mengandung gizi tinggi, dan bahkan beberapa diantaranya memiliki khasiat obat, jamur konsumsi menjadi salah satu komoditas pertanian yang memiliki nilai jual tinggi. Budi daya jamur konsumsi telah menciptakan sebuah pekerjaan baru di bidang pertanian di Indonesia. Selain itu, budi daya jamur konsumsi, terutama jamur kuping, tiram dan merang, memiliki beberapa keuntungan dibandingkan dengan budi daya tanaman pertanian lain. Keuntungan itu antara lain mudahnya mendapatkan bibit, media tanam, lokasi budi daya, dan harga jualnya yang tinggi.

Buku ini memaparkan dengan ringkas dan padat, bagaimana cara membudidayakan jamur konsumsi, mulai dari pembibitan sampai dengan proses pemanenannya. Selain itu, dalam buku ini juga dijelaskan cara menanggulangi hama dan penyakit yang menyerang jamur dan dilengkapi dengan analisis usaha budi daya jamur konsumsi.

Maret 1, 2008 Ditulis oleh sur4m | BISNIS | | Belum Ada Tanggapan

BISNIS IKAN LELE

Memilih usaha ternyata tidak harus dari sesuatu yang wah. Banyak peluang besar bisa Anda peroleh justru dari sesuatu yang nampak sepele. Semisal beternak ikan lele.Ikan berkumis ini memang masih dipandang sebelah mata oleh pebisnis. Padahal, rejeki yang ia janjikan cukup besar. Gerai supermerket besar hingga warung tenda di pinggir jalan butuh pasokan lele dalam jumlah banyak secara rutin.

Mungkin kita tak pernah menggubris warung tenda yang menjajakan menu pecel lele yang berderet di sepenjang jalan. Padahal, kontinuitas kebutuhan lele di warung tenda umumnya lebih pasti bila dibanding dengan kebutuhan lele di supermarket. Warung-warung seperti itu banyak tersebar di setiap kota.

Memulai bisnis lele tidah harus selalu diawali dengan hitungan yang jelimet serta bikin pusing. Anda bisa memualinya dengan sekedar bejlan-jalan santai, nongkrong sambil iseng mencicipi menu ikan lele. Dari kegiatan itu Anda bisa memetakan pasar ikan lele. Jumlah kebutuhan ikan lelepun bisa Anda peroleh secara pasti.

“Ya…. Kira-kira saya bisa habis lele 7 –8 kg setiap malam,” begitulah pengakuan Sarah pedagang pecel lele di bilangan Jakarta Barat. “Ikan saya beli dari pasar Kebayoran Lama. Tiap kilo harganya Rp 12.000. Jika dihitung-hitung, Sarah butuh lele yang tidak sedikit. Paling tidak ia harus mendapat pasokan 210 – 240 kg lele segar secara rutin.

Keterangan di atas bisa memberi gambaran kasar bagi Anda bahwa peluang berbisnis lele berprospek cerah. Pengalaman manis berbisnis lele juga dimiliki oleh Ivan, peternak lele di Parung. Usaha ini mulai ia tekuni sekitar dua tahun yang lalu.

Awalnya usaha itu ditekuni oleh kakaknya. Karena saudaranya harus bertugas keluar negeri lantas usaha kolam lele itu dihibahkan kepada Vian. Pemuda yang masih kuliah di salah satu Universitas Suwasta di Jakarta itu merasa masih perlu banyak belajar di bidang perlelean. Saat ini ia dibimbing oleh Sueb, orang kepercayaan kakaknya.

Berkat ikan bernama latin Clarias sp itu, Vian bisa menanggung biaya kulah secara mandiri. Saat ini Vian memiliki kolam sebanyak 15 petak. Tiap kolam berukuran luas 300m. Menurut Sueb, menjual ikan lele itu enak. Kita tidak perlu lagi repot-repot mencari keterangan pasar. Pembibitan memang lebih cepat untung. Tapi, kapasitas keuntungannya lebih kecil bila dibanding dengan pembesaran.

Usaha pembesaran memang butuh modal lebih besar bila dibandingkan dengan pembibitan. Namun, untung yang bisa diraup lebih menjanjikan. Masa panen ikan lele memang relatif lebih cepat bila dibandingkan dengan jenis ikan konsumsi yang lain. “Kalau gurami baru bisa dipanen sekitar 8 bulan. Sedangkan lele sudah bisa dipanen sekitar 50 hari,” terang Vian sambil memegangi serokan yang dipenuhi ikan lele siap panen.

Kondisi pasar ikan lele mamang cenderung lebih tidak stabil bila dibanding dengan kondisi pasar ikan jenis lain. “Kadang-kadang harganya naik sangat tinggi, Tapi kadang-kadang pula merosot,” ungkap Sueb. “Pokoknya jangan jual lele pada bulan-bulan yang tidak ada huruf “R”nya (Mei, Juni, Juli, dan Agustus),”sahut Vian memaparkan pengalamannya. Sebab. Pada kisaran bulan itu banyak petani lele yang mengobral lelenya dengan harga murah. Alasannya, mereka sangat butuh biaya untuk keperluan sekolah anak-anak mereka. Harga jual ikan lele akan mencapai puncak termahal pada bulan Januari. Sebab, pada waktu itu pasokan ikan lele cenderung berkurang. Hal itu disebabkan karena pada bulan itu pembibitan lele banyak yang gagal. Banyak telur yang gagal menetas lantaran pengaruh musim hujan. Menurut pengalaman Vian, air hujan bisa menurunkan derajan keasaman (pH) air kolam.

Jika Anda memiliki jumlah kolam lebih dari satu, Maka periode panen bisa dirancang bergantian. Berkat cara seperti ini, periode panen bisa menjadi lebih cepat dari 50 hari.
=Budidaya lele tidak direpotkan dengan masalah air. Daya tahan ikan lele sangat baik “Asal air selalu penuh dan cukup pangan, itu sudah beres,”jelas Sueb di dalam saung tempat menjaga kolam lele. Supaya bisa untung, ikan yang dipelihara minimal haru berjumlah 10.000 ekor. Jumlah ikan sebanyak itu butuh paka sebanyak 35 karung. Setok pakan sebanyak itu dipakai dalam satu kali periode usaha. Setiap karung berisi pakan seberat 30 kg. Harga pakan perkarung adalah Rp 160.000.

Masalah pakan bisa diatasi dengan oplosan pakan yang berasal dari jerohan ayam. Harganya Cuma Rp 1500/ kg. kwintal jerohan bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan pakan lele selama 1 – 1,5 hari. Satu kolam butuh 2 karung pelet setiap hari. Pemberian pakan dilakukan 2 kali dalam sehari. Jadi, satu karung pelet digunakan untuk sekali pemberian pakan. Berkat menu tambahan, ukuran ikan bisa semakin besar. “Kalau biasanya ikan sekilo ada 7 ekor, setelah diberi pakan tambahan berat ikan sekilo cima 6 ekor. Keuntungan lain yaitu bisa lebih irit biaya Rp 510.000 setiap bulan.

Harga jual ikan lele di tingkat petani saat ini adalah Rp 11.000 / kg. Persentase kematian ikan lele biasanya mencapai 10%. Kondisi seperti itu umumnya terjadi sehabis ikan lele dilepas ke dalam kolam. Terutama ketika cuaca sedang panas. Setiap kolam bisa menghasilkan lele seberat 7 – 8 kuintal.

Kedalaman kolam lele minimal 1 m. Air yang terlalu dangkal menyebabkan ukuran lele menjadi terlalu pendek. Sebab ikan menjadi kurang gerak. Jumlah bibit yang ditaburkan 50.000 ekor dalam setiap kolam. Bibit lele itu masih seukuran rokok. Satu bulan setelah dilepas, iakan lantas disortasi. Ikan yang sudah sebesar batu baterai dipindah kolam yang lain. Tujuannya supaya ukuran ikan seragam. Sebab jika tidak disortir, ikan yang ukurannya lebih kecil akan dimangsa oleh lele yang berbada lebih gede. Biasanya setelah disortir ikan tinggal 12.000 ekor. Atau sekitar 3 kwintal.

Maret 1, 2008 Ditulis oleh sur4m | BISNIS | | & Komentar

KUTIPAN INSPIRASI BISNIS

Pelanggan Bukan Raja

Ini bukan soal melakukan apa pun yang dikatakan pelanggan. Pelanggan tidak selalu benar. Omong kosong itu. Jika Anda selalu memasang target ke semua orang, Anda tidak memiliki jiwa. Di Jones Soda, jiwa itu tampak pada perkataan, “Jual sodanya, kumpulkan uang, buat perbedaan dan tetap fun.”

Van Stolk, CEO Jones Soda Co.

Maret 1, 2008 Ditulis oleh sur4m | Tak Berkategori | | Belum Ada Tanggapan

Emansipatoris Sebagai Landasan Paradigmatik Pendidikan Islam

Emansipatoris Sebagai Landasan Paradigmatik Pendidikan Islam

Kebebasan dalam term Islam dimaksudkan sebagai kebebasan tauhid yang tidak ada sesuatupun mampu mengekang, membatasi, dan beragam penindasan lain, kecuali Allah semata. Apalagi sekadar sistem pendidikan dan muatan kurikulumya saja.

Urgensi pembebasan di kalangan Muslim tidak muncul begitu saja, namun menjadi kesadaran sebagai efek panjang dari beragam proses sosial pada masa kemunduran spiritualitas Islam. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya formasi pemikiran yang menjelaskan tentang urgensi dan esensi-esensi pembebasan dalam beragama. Kesadaran demikian setidaknya tidak bisa melepaskan dari keberadaan Asghar Ali Engineer, Hassan Hanafi, dan Farid Esack.

Menurut tokoh-tokoh di atas, realitas kemiskinan dan ketertindasan masyarakat bukan sesuatu yang given, tetapi sebagai akibat dari struktur yang secara sistemik menciptakan kondisi-kondisi negatif tersebut. Dalam hal ini, perlu pendekatan rasional, intelektual, dan mengedepankan gerakan-gerakan nyata dalam berteologi. Di antara gerakan itu adalah kritik historis yang berupaya mencari kebenaran dari segi teologis, filosofis, sampai pada fenomenologis dalam memahami teks. Kedua, kritik praksis, yang berarti sebuah kebenaran yang mampu memotivasi tindakan pada kemajuan hidup manusia. Jadi, lebih pada bagaimana dogma mampu membangkitkan solidaritas manusia untuk membebaskan dari penindasan.

Dari ranah pemikiran pembebasan (emansipatoris) demikian, penting sekali untuk diimplementasikan dalam kerangka pendekatan paradigma pendidikan Islam karena telah terjadi eksploitasi atas nama agama dalam dunia pendidikan, sehingga memunculkan terminologi dikotomi pendidikan. Untuk itulah perlu mengulas formasi pembaharuan pendidikan Islam dalam model Islamisasi ilmu, dengan mengimplementasikan ranah emansipatoris.

Menegaskan Epistemologi Dalam Islam

Gagasan Islamisasi ilmu merupakan program epistemologi dalam rangka membangun (kembali) peradaban Islam, yang selama ini terkungkung dalam dualisme pengetahuan. Hal ini disebabkan adanya perbedaan yang fundamen antara keilmuan dalam Islam dengan peradaban Barat pada tataran ontologi dan epistemologi. Pada sisi ontologi, Barat hanya menjadikan alam nyata sebagai objek kajian, sehingga mereka membatasi akal dan panca indra (empiris) sebagai epistemologinya. Epistemologi demikian tampak jelas pada logika positivisme bahwa sumber pengetahuan hanya terdiri dari panca indra (empiris) serta akal, sehingga sesuatu dianggap “ilmu” dan mengandung “kebenaran” manakala bisa dibuktikan dengan menggunakan verifikasi logis dan verifikasi empiris. Sedangkan perspektif keilmuan dalam Islam mementingkan kedua alam: ‘alam ghayb (metaphysic) dan ‘alam syahadah (physic), serta menerima wahyu sebagai penimbang kedua alam itu. Dengan demikian, dalam keilmuan Islam berupaya memadukan antara unsur kosmologis, antropologis, dan teologis, yang masing-masing berpusat pada penguatan tauhid.

Untuk itu, pembelajaran dalam pendidikan Islam diarahkan pada konsep tauhid sebagai ultimate goal pada setiap prosesnya. Dalam tauhid, manusia bukan saja bebas dan merdeka, tetapi juga memiliki kedudukan yang sama tanpa adanya superioritas dengan yang lain. Jika sudah tidak ada nuansa superioritas, secara langsung menunjukkan hilangnya penyekat kolektivitas manusia, baik dalam wujud suku bangsa, atau sekedar kelas sosial dalam konsepsi pendidikan Islam.

Menuju Paradigma Emansipatoris

Ide-ide dasar pemikiran pendidikan Islam emansipatoris memang banyak dipengaruhi oleh Asghar Ali Engineer, Farid Esack, dan Hasan Hanafi sebagaimana diuraikan. Pada akhirnya, muncullah prinsip-prinsip dasar paradigmatik pendidikan Islam emansipatoris sebagaimana juga berkembang tafsir emansipatoris, yang berawal dari gagasan-gagasan perlawanan tokoh tersebut.

Pertama, keterbukaan al Qur’an. Konsekuensi manakala al Qur’an diposisikan sebagai kitab yang tertutup, yaitu pendidikan hanya akan mengajarkan sikap agama legalistik, yaitu hanya berputar-putar pada hukum ancaman atau sanksi yang cenderung mencari orang bersalah dan bahkan orang yang layak dihilangkan. Pendidikan kurang merespon problem-problem sosial tentang tingginya angka putus sekolah, kurang gizi kasus lingkungan, praktik korupsi anggaran, termasuk isu gender. Keterbukaan ini dimaksudkan dalam proses penafsiran yang berintegrasi dengan problem sosial.

Kedua, keadilan. Kehadiran Nabi-Nabi merupakan aksi sistematis untuk membebaskan kaumnya dari penindasan, yang berarti untuk menegakkan pondasi keadilan. Di sini, pendidikan mempunyai makna sebagai proses perubahan struktural untuk menghapus eksploitasi manusia dengan mengembangkan semangat kesederajatan dan keadilan sosial sebagai titik essensial. Kecenderungan dalam prinsip pendidikan Islam emansipatoris ini, menghendaki adanya penghargaan kesamaan potensi manusia yang paling sempurna berupa akal.

Ketiga, pembebasan. Agama yang diturunkan oleh Allah pada dasarnya mementingkan transformasi sosial dalam bentuk membebaskan akal, fisik, martabat kemanusiaan agar dapat menyejahterakan manusia. Untuk itu agama harus difahami secara produktif dan up to date untuk melepaskan ketergantungan manusia dari hegemoni tertentu. Dengan demikian, kemampuan pendidikan untuk berefek guna dalam masyarakat terletak pada kemampuannya membebaskan manusia dari hegemoni tertentu yang menghilangkan daya nalar dan kritisisme.

Keempat, kemanusiaan. Prinsip ini ingin menghadirkan dimensi yang mengangkat harkat manusia tanpa melihat perbedaan apapun. Sejarah penyebaran Islam pada awal kelahirannya, mempunyai misi untuk membela dan menegakkan keadilan tanpa memandang latar sosial. Sayangnya, sejarah Islam sebagai kekuatan pembebas kemanusiaan lintas batas itu mengalami kemandegan analisis, yaitu berhenti pada agama untuk Tuhan. Sebagai imbasnya, pendidikan agama jarang membahas tema-tema sosial sehingga kehilangan jarak dengan manusia dalam realitas.

Kelima, pluralisme. Islam adalah agama damai, hal ini jelas dalam misi kenabian berupa kesejahteraan bagi semesta. Dalam praksisnya, ini didukung adagium menghindarkan kerusakan lebih diutamakan dari upaya menghadirkan kebaikan (dar’u al-mafasid muqaddim ‘ala jalbi al-mashalih). Untuk itulah Islam lebih mengedepankan toleransi daripada konfrontasi, kendati sebagai pihak yang kuat.

Keenam, sensitifitas gender. Dalam berbagai tradisi dan budaya, sejarah perempuan meninggalkan tragedi yang mengerikan. Hal ini bisa dilihat dari peradaban Yunani dan Romawi yang menjadikan perempuan sebagai budak. Di jazirah Arab, perempuan juga direspon kebencian sehingga kelahirannya harus disambut penguburan hidup-hidup. Dan, mitos kultural rendahnya perempuan juga berkembang di Indonesia yang melekatkan perempuan dengan wilayah domestik. Hal ini berakibat dalam pendidikan publik yang cenderung patriarkis (male dominated).

Ketujuh, non-diskriminatif. Apek ini adalah hambatan utama dalam bermasyarakat yang melahirkan penindasan dan ketidakadilan. Penyebab inti yang sering mengakibatkan proses diskriminasi adalah adanya ekspresi kesombongan, baik intelektual, sosial, emosional, sampai pada kesombongan keagamaan. Sehingga penghayatan eksistensi nama-nama Allah yang ada, hanya satu yang perlu dibreak down dalam kehidupan sehari-hari, yaitu nama mutakabbir (Zat maha sombong).

Sebagaimana pemahaman bahwa pendidikan sebagai proses aktualisasi sifat Ilahi pada manusia, maka pesan kesombongan yang terkandung di dalam nama Allah harus diintegrasikan dalam kehidupan bermasyarakat dengan kesadaran bahwa tidak ada unsur superioritas dalam diri manusia atas manusia lainya. Jadi, pendidikan emansipatoris adalah konsepsi pendidikan yang memadukan antara teosentris, antroposentris, dan kosmosentris untuk membebaskan manusia dari hegemoni tertentu aras dasar tauhid sebagai dogma revolusi. Wallahu a’lam.

Muh. Khamdan

Koordinator Lembaga Kajian Agama dan Dinamika Sosial (eLKAs)

LPM Paradigma Kudus

Maret 1, 2008 Ditulis oleh sur4m | AGAMA | | Belum Ada Tanggapan